Jumat, 22 Juni 2012

This is My Bright Way

 _____-^^^-

Allah Akbar... Allah Akbar... Allah Akbar... Subhanallah saya begitu takjub ketika berada di Jakarta dalam acara  akbar  Konferensi Nasional Mahasiswa dan Intelektual  beberapa minggu yang lalu. Begitu semaraknya acara itu dan menggelegarkan kampus negeri ternama di Indonesia dengan pekikan Takbir. Walaupun panitia SDM yang minim mampu menghadirkan perwakilan mahasiswa seluruh Indonesia. Selama perjalanan menuju UI sambutan Ar Royyah Al Liwah berkibar menyambut para peserta konferensi, rasanya dalam pikiran ku saat itu Khilafah sudah didepan mata. Subhanallah!  So Great buat perjuangan mahasiswa yang merupakan Agent of Change and also iron stock. Saya sangat bersyukur berada diantara ribuan para muslimah mustanir menjadi salah satu penggerak  roda kampus dalam memperjuangkan islam yang menjadi cita-cita besar umat. Acara ini juga  mengikat ruh jama’i  yang begitu erat, padahal kami satu sama lain tak kenal  tapi itu lah kekuatan sebuah ideologi yang telah mengikat dalam pikiran kami. Ideologi yang berasal dari asas Sang Mudabbir. 

Kami ibarat seorang musafir dan bertemu dengan saudara seperjuangan dalam sebuah agenda besar.  Momen ini juga merupakan the first experience bagi ku dalam mengikuti  jenjang acara Nasiona. Aku sangat bersyukur yang selama ini hanya melihat perjuangan hanya lingkup kota saja kini sudah  merasakan lingkup nasional. Apalagi dalam acara tersebut terdapat perwakilan dari Inggris yaitu Dr. Nazreen Nawaz  sebagai Women Media Representatif of HT. Seperti yang dikutib dari intellectual speech nya yang begitu subhanallah :


“So sisters, the youth of Islam should be the Role Model for youth everywhere – and rightly so – because the youth who are the obedient servants to Allah, who grow up in the worship of their Creator, following His Commands, staying away from His Prohibitions, are the ones who are distinguished in their character and the most noble in behavior, slaves to Allah and not slaves to their desires.They are the ones who seek the most perfect ahlaq (morals), aiming high in every aspect of life.”
Hmm.. oke kawan mungkin itu sedikit ole-ole yang saya dapat kan dari agenda besar dakwah yang pernah ku ikut, insya Allah nanti bisa gabung dalam acara internasional juga ^^ amin. Subhanallah saya sangat bersyukur dalam medan jejak yang salah langkah hingga detik ini. Koq bisa yah?  Kalian pasti juga bertanya koq bisa ikut dalam agenda besar itu, apa sih pentingnya? Baiklah kawan saya akan sedikit membuka album sejarah jejak yang telah saya ukir hingga saya bisa katakan saat ini Ideologi islam harus kita perjuangkan hingga titik darah penghabisan. Koq sereum banget? ^_^ yah itu lah yang dirasakan seorang hamlu dakwah ketika sudah merasakan manisnya perjuangan  walaupun pahit terasa. Sedikit goresan  perjalanan dakwah  ini semoga bisa sedikit menjadi inspirasi bagi kawan-kawan walaupun masih banyak kekurangan disana-sini. Bismillah.
Genap 21 tahun aku menapaki jejak  bumi Allah.Tapi nafas aturan hidup bukan berasal dari penggenggam jantung dunia, Rabbul Izzati. Bumi yang begitu subur dengan hasil alam yang melimpah, emas ibarat gunung , sumur minyak melimpah ,sebaliknya sumber kekayaannya tak bisa dirasakan oleh umat karena kerakusan kaum pencilat kapitalis.
Dalam episode ini saya akan membuka tabir sejarah hidup saya menemukan begitu indahnynya jejak-jejak islam, jejak para Nabi dan Rasul, jejak saya untuk kali pertama mendaki kata yang bernama ‘dakwah’. Saya hanya butiran debu yang tak berarti , deburan ombak yang mengikuti lempengan magma dilautan, rintikan hujan diantara dahsyatnya gemuruh halillintar. Ya saya hanyalah makhluk biasa yang Allah ciptakan.
Saya bukan dari keluarga ustadz, apalagi kyai. Backround keluarga saya alhmdulilah sudah menjalankan islam artian ketika sudah melaksanakan sholat secara full berarti sudah sempurna islam nya. Saya dan kakak-kakak saya diajarkan sholat dan mengaji dari kecil. Jadi ketika saya sudah menjalankan itu lepaslah tanggung jawab orangtua dalam masalah agama.
Jejak pikiran  saya mulai mengerti  derasnya arus deburan ombak  pencarian ‘who I am “ ketika dibangku SMA. Saya sudah mulai terpikir siapa saya ini dan untuk apa Allah ciptakan saya. Apakah hidup saya untuk belajar atau hanya mencari sebuah kebahagiaan? Tapi pikiran itu hanya berselang tergantung di brain yang belum terurai. Saya mulai berpikir untuk mencari aktivitas lain selain belajar dan belajar. “Emang tujuan  kita hidup cuma belajar”, pikirku. Aku mulai jenuh dengan aktivitas yang tak membuah suatu pengalaman yang “wah”. Apalagi saya termasuk kategori anak yang sangat pemalu, saya enggak suka keramaian yang enggak jelas, tapi ingin selalu mencoba hal  baru. Saya banyak menghabiskan waktu di perpustakaan. Saya pernah membaca biografi-biografi orang hebat, mereka  mengembangkan diri jadi sukses dengan cara ikut organisasi.  Akhirnya saya melirik organisasi disekolah. Ada banyak organisasi , saya pikir dengan mengikuti banyak aktivitas menghilangkan rasa kebosanan saya belajar dan menjadi  salah satu calon orang hebat  juga  ^____^.   Ada beberapa pertimbangan saya memilah organisasi, tentunya itu hal yang menarik bagi saya dan tak mengakibatkan fisik. Saya disekolah suka  melihat mbak-mbak yang terlihat anggun dan cantik ketika kerudung lebarnya terurai panjang dan juga terlihat segerombolan  kakak ikhwan , yang biasa saya sebut dulu, hehe.Saya liat mereka aktivitasnya banyak dimasjid dan secret area. Aku kagum dengan aktivitas mereka. Walaupun  secara kasatmata organisasi PMR, Paskibraka, Marching Band lebih menarik untuk disaksikan tapi hatiku tak bergeming. Aku putuskan untuk memilih ROHIS sebagai pencarian jati diriku.
Alhmdulilah ketika aku mulai gabung di ROHIS terlihat perubahan dengan diriku. Superman kali berubah! Hehe. Maksdunya gini Aku yang dulu Cuma tahu sholat saja yang wajib kini mulai belajar menjalankan hal yang wajib dan sunnah serta belajar untuk memakai kerudung. Memakai kerudung bukan hal yang susah bagiku karena kakak-kakakku sudah memakai semua, kecuali satu kakak ku yang belum mantap. Bismillah aku tutup hijabku dengan kerudung mengulur ke dada. Karena itu merupakan pakaian muslimah yang mesti kupertanggungjawabkan nanti di akhirat.
Dari organisasi ini aku menemukan pengetahuan baru dari mengikuti talkshow remaja, rikhlah sampai mabit bareng ,itu yang dikerjakan oleh kelompok liqo ku. Dari waktu ke waktu juga aku memperbaiki diri , tapi kelalaian masih sering saja aku lalai tak sengaja melakukannya.
Saya pernah diceritakan oleh murrabih (guru) liqo ku mengenai kondisi Palestina , saya sangat teriris melihat kondisi di Palestina yang digempur Israel laknatullah. Sudah bertahun-tahun wilayah itu digempur. Bulir-bulir gerimis  secara reflex membanjiri pipi ketika rutin kami menonton tayangan Palestina. Kami hanya bisa berdoa untuk saudara di Palestina dan mengumpulkan dana yang bisa disumbangkan. Kata murrobi ku kita enggak ada jalan lain menolong mereka selain berdoa dan hanya Allah yang mampu  menolong mereka. “Bukankah doa itu selemah-lemahnya iman? “ ,Pikirku. Tapi aku tak menggubris itu semua, pikiranku belum semustanir sekarang. Aku belum berani berpikir kritis saat itu. Genap 1,5 tahun sudah aku menjadi aktivitis bersama saudara-saudara di Rohis. Tapi aku belum menemukan siapa jati diriku.  
Selang waktu berjalan ketika masuk perguruan  tinggi aku pun melanjutkan perburuan hidupku dengn masuk organisasi yang sama dengan Rohis yaitu LDK. Kalian pasti tak asing dengan singkatan itu. Karena hampir seluruh kampus banyak mahasiswa aktif dilembaga tersebut. Lembaga Dakwah Kampuss. Aku aktif  juga di lembaga ini. selain niat untuk belajar islam lebih mendalam lagi, aku pun ingin  lebih mengeksis kan diri menjadi pengurus struktur organisasi menjadi salah satu tujuan . Agenda dakwah yang kami agendakan misal bedah buku islam, kunjungan ke panti asuhan, dll. Serta agenda rutin yang diadakan yaitu milad lembaga yang sedang kamu naungin saat ini, dengan seabrek kegiatan-kegiatan yang dilakukan.  Misal dengan lomba-lomba nasyid, tilawah, kaligrafi sampai lomba fashion show busana muslim dan tak lupa hiburan yang disuguhkan yaitu penampilan nasyid idola para aktivis dakwah kampus, tak jarang mereka gencar masukan proposal untuk bisa mencukupi dana mengundang tim nasdyid nasional. Mereka juga mengadakan tabliq akbar mengudang dai’ kondang nasional. Tentu saja dengan menguras keringat dengan bayaran yang berjuta-juta. Aku sedih dengan kondisi seperti ini koq umat islam mau belajar islam dengan ustadz-ustadz tenar susah minta ampun, bukan hanya susah dilobi tapi yang lebih mencekik lagi bayarannya kawan-kawan. Sungguh angka yang fantastis!! Dakwah sudah dijadikan tumpuan hidup bukan ikhlas sepenuhnya dalam menyebarkan islam. Sehingga para aktivis dilupakan dengan tujuan dakwah secara real malah berada dalam  kegalauan bagaimana umat akan paham jika mengundang ustadz terkenal saja begitu ribet. Aku miris melihat fakta seperti ini.Para aktivis terjebak pada system kapitalisme tapi mereka bungkam dengan akar masalah sekarang. Terjadilah perjuangan yang apatis. Mahasiswa yang seharusnya menjadi leader dalam perjuangan, tapi yang mereka perjuangkan adalah perjuangan yang semu, perjuangan suatu kelompok. Dilema bagi pejuang dakwah!
Derasnya bergolakan batin, dengan seribu pertanyaan apa yang terjadi dengan kondisi mahasiswa serta masyarakat yang makin hari makin sengsara, terutama lagi bisa-bisanya para pejabat  dengan mengajak keluarga besar mereka  bertamasya ke luar negeri atas izin studi banding  agar tatanan bangsa semakin bagus , itulah yang terdengar oleh  telinga masyarakat. Lalu apa hasil yang mereka dapatkan setelah kembali ke tanah air. “oleh-oleh” berupa kerjasama menjual aset bangsa kepada asing. Na’uzubillah. Kemanakah peran mahasiswa ketika kekayaan alam akan dijual ke asing dan banyak pasal-pasal pesanan asing sebagai penanaman modal di negara ini. Mahasiswa saat ini pun sudah terbius oleh perjuangan yang utopis, memperjuangkan islam lewat bantuan parlemen. Jelas ini suatu kebathilan yang tidak dicontohkan baginda Rasul. “Andai matahari ditangan kanan ku dan bulan ditangan kiriku, Aku tidak akan meninggalkan perjuangan ini”.
Suatu ketika penat kejenuhan merasuki pikiranku. Aku duduk diteras masjid yang berada tepat seberangan dengan kampus ku. Setelah berkhalwat dengan Allah siang ini, aku bersandar di salah satu pilar masjid. Aku ingin sejenak melupakan masalah kuliah dan rapat yang begitu rutin menyita waktu istirahatku. Ada salah seorang akhwat mendekati sembari menyodorkan selembaran seperti bulletin membangunkan alam bawa sadarku. Aku belum mengenal akhwat itu, baru pertama ini aku mengenalnya. Mungkin aktivis dakwah kampus tetanggaku kali yah pikirku. Aku pun langsung diajak ngobrol oleh beliau. Entah aku lupa judul bulletin pertama kali yang ku pegang tentang tema apa. Yang jelas aku pertama kali mendengar aktivis seperti itu. Seingatku dia menjelaskan suatu permasalahan yang terjadi  dan menyampaikan solusi  dengan syariah dan khilafah.
“Syariah dan Khilafah”, dua kata itu kini telah menjawab siapa jati diriku dan beribu pertanyaan yang kulihat dengan kondisi sekarang. Aku dan semua makhluk Allah di bumi ini tidak diciptakan Allah begitu saja melainkan tujuan nya untuk beribadah kepadaNya sebagaimana firman Allah Qs. Adz-Dzariyat:56 “Tidak Aku ciptakan manusia dan jin kecuali beribadah kepadaKu”. Tentunya disini beribadah dengan menjalankan syariah islam secara kaffah. Syariat itu tidak bisa kita terapkan sempurna tanpa ada payung yang menaungi yaitu Daulah Khilafah Islamiyah. Ini lah yang akan menjadi bukti keimanan kita kepada Allah, jika kita telah beriman bahwa Allah sebagai Sang Khaliq dan Muddabir tentunya kita tak bisa diam melihat kondisi sekarang. Kita sholeh secara pribadi wajib, haram ketika kita tak mensolehkan orang lain.
“Perumpamaan orang yang menjaga dan menerapkan batas (peraturan) Allah adalah laksana kelompok penumpang kapal yang mengundi tempat duduk mereka. Sebagian mereka mendapat tempat di bagian atas, dan sebagian lain di bawah. Jika mereka (yang ada di bagian atas) membutuhkan air, mereka harus berjalan melewati bagian bawah kapal. Mereka berujar, “Bagaimana jika kami melubangi saja bagian bawah kapal ini(untuk mendapatkan air)sehingga kami tidak perlu sampai mengganggu orang yang berada di bagian bawah.”Jika kalian membiarkan mereka berbuat menuruti keinginan mereka itu, maka binasalah mereka , dan seluruh penumpang kapal itu. Namun, jika kalian mencegah mereka, selamatlah mereka dan seluruh penumpang yang lain.” (HR Al Bukhari)
Itu lah gambaran kondisi kaum muslimin sekarang. Kaum muslin yang 90% islam tapi aturan yang diterapkan merupakan aturan dari manusia yang serba terbatas. Serta kondisi kaum muslimin yang semakin bersikap individualis, hedonis serta liberal telah mengakar. Tak ada kata lagi bahwa kaum muslim itu ibarat satu tubuh sekarang sudah bercerai berai. Konflik Palestina hanya bisa diselesaikan dengan adanya sosok khalifah yang akan menendang Israel dari tanah suci Palestina. Ini lah buah busuk sistem kapitalisme yang semakin  bobroknya. Dengan berbagai persoalan yang ada mulai dari individu, masyarakat bahkan negara akar masalah terletak pada sistem yang ada. Solusi nya kembali kepada hukum-hukum Allah dengan menerapkan syariah dan khilafah. ” ..kemudian akan ada Khilafah,yg sesuai metode kenabian.." (HR. Ahmad). Banyak orang muslim sendiri masih beranggapan bahwa khilafah itu hanya utopis, sedangkan kaum barat yang notabene nya kafir sudah bisa memprediksikan dengan 3 perang ideologi, mereka berpendapat bahwa yang akan menggantikan sistem kapitalisme yang sudah diujung tanduk yaitu negara khilafah fase ke dua. Sehingga mereka berbagai upaya meracuni dan mencuci otak kaum muslimin dengan pikiran barat. Sesungguhnya kita sekarang masih dalam kondisi terjajah, bukan jajahan fisik tapi  pikiran kitalah yang dijajah. Khilafah adalah sebuah sebuah janji, yang tidak datang begitu saja melainkan harus diperjuangkan. “Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sebelum kaum itu mengubah apa yang ada pada dirinya”.
Insya Allah harakah dakwah ini lah yang selama ini ku cari. Harakah  dakwah yang sesuai tujuan untuk menyatukan kaum muslim seluruh dunia dengan mengembalikan hukum-hukum Allah dengan metode perjuangan yang sempurna berkiblat kepada Rasulullah. Harakah yang telah menyatukan negara-negara dunia dengan mengemban ideologi islam. Semakin jelas perjuangan yang  haq dan batil itu. Semoga kita semua istiqomah dibarisan dakwah ini.
 Kereta dakwah akan terus berjalan, Ada atau tanpa kita. Kita yang membutuhkan islam bukan islam yang butuh kita. Menjadi pemain atau penonton ketika khilafah bangkit menjadi pilihan kita. Ibarat permainan sepak bola. Ketika bola masuk ke gawang siapa yang paling senang dan dapat reward? Tentu pemain bukan. Sedangkan penonton hanya keciprat bangga nya saja. Sekali lagi pilihan ada ditangan kita. Sebelum semuanya hanya sebuah penyesalan tentukan pilihan kalian semua. This is My  Bright Way.
Wallahu’alam bisawab.

(Hikari Illahi)












                               

Kamis, 07 Juni 2012

Saat Khilafah Berdiri, Siapa Kholifahnya ?




 2:40 AM | Author: Denny Asseifff


Soal:
Kalau nanti Khilafah berdiri, siapa yang akan menjadi khalifah kaum Muslim? Andai saja Amir atau anggota Hizbut Tahrir menjadi khalifah, bagaimana relasi keduanya sehingga dia tetap independen?
Jawab:
Jika Khilafah berdiri dengan izin dan pertolongan Allah, insya Allah yang diangkat menjadi khalifah adalah orang terbaik, setelah memenuhi syarat in’iqad: Muslim, balig, berakal, laki-laki, merdeka, adil dan mampu menjalankan seluruh kewajibannya sebagai Khalifah.[1] Adapun syarat lain, seperti keturunan Quraisy, mujtahid dan pemberani, hanyalah syarat pelengkap (afdhaliyyah); bukan syarat sah dan tidaknya seseorang menjadi khalifah.[2]
Hanya saja, siapakah yang paling layak di antara orang terbaik yang memenuhi kriteria tersebut? Tentu orang yang ikut berjuang menegakkan Khilafah, dan ketua partai politik, atau gerakan revolusioner yang berhasil mendapatkan mandat kekuasaan (istilam al-hukm) dari umat. Begitulah Nabi saw. mencontohkan dan begitulah sejarah membuktikan. Nabi saw. sendiri adalah ketua partai politik, yang dikenal dengan Hizbur Rasul, ketika masih di Makkah. Nabi saw. mendidik, mempersiapkan proses perubahan dan mewujudkan perubahan bersama para Sahabat yang menjadi anggota Hizbur Rasul hingga mendapatkan baiat pertama dan kedua dari kaum Aus dan Khazraj di ‘Aqabah, Mina. Wajar, jika kemudian Nabi saw. menjadi kepala Negara Islam pertama. Sebab, Baginda Nabi saw.-lah pejuang dan pemimpin para pejuang yang melakukan perubahan revolusioner tersebut.
Sejarah juga membuktikan hal yang sama. Revolusi Bolshevik dan Revolusi Iran adalah contoh nyata yang mengantarkan kedua pemimpin revolusioner ke tampuk kekuasaan. Hal yang sama juga bisa terjadi pada Hizbut Tahrir. Jika kelak Allah SWT memberikan pertolongan, umat pun akan menyerahkan mandat kekuasaan (istilam al-hukm) kepada Hizbut Tahrir dan pemimpin Hizb. Itu hal yang normal. Justru yang tidak normal, jika umat menyerahkan kekuasaannya kepada orang atau pemimpin partai, jamaah atau kelompok yang tidak berjuang menegakkan Khilafah. Sebab, jika ini terjadi maka ini akan menjadi musibah bagi Islam dan kaum Muslim, sebagaimana yang kini sedang berlangsung di Mesir, Tunisia dan Libya, misalnya. 
Masalahnya kemudian, bagaimana relasi Khilafah dengan Hizbut Tahrir di satu sisi, ketika kekuasaan tersebut diserahkan kepada Hizbut Tahrir, dan relasi antara Amir atau anggota Hizbut Tahrir dengan Khilafah di sisi lain?
Mengenai posisi Hizbut Tahrir ketika Khilafah sudah berdiri, maka Hizbut Tahrir sebagai partai politik tetap dalam posisinya sebagai partai politik yang tetap berada di tengah-tengah umat, mendidik dan mengawal pemikiran dan perasaan umat (qawam al-ummah afkaraha wa hissaha) sehingga pemikiran dan perasaan tersebut tetap terjaga. Ini sebagaimana yang ditegaskan oleh Hizb dalam Qanun Idari-nya. Posisi ini tidak berubah hingga kapan pun. 
Selain itu, Hizb juga mengambil posisi yang tegas, tidak berada dalam pemerintahan sebagai partai pemerintah (hizb hakim), maupun partai oposisi (hizb mu’aridh). Pasalnya, konsep partai berkuasa dan oposisi (hizb hakim wa mu’aridh) ini memang tidak dikenal dalam Islam. Hizb akan tetap berdiri dalam posisinya sebagai partai yang selalu melakukan tugas dan fungsinya, mengoreksi kebijakan penguasa (muhasabatu al-hukkam), jika kebijakan-kebijakan tersebut dianggap menyalahi ketentuan hukum syariah. Semua itu bukan dalam rangka mencari-cari kesalahan, atau bahkan menjatuhkan mereka, tetapi untuk melaksanakan amar makruf dan nahi munkar semata-mata karena Allah SWT.
Kedua posisi ini akan tetap dijaga dan diperankan oleh Hizb, baik ketika Khilafah dipimpin oleh anggota Hizb maupun bukan. Sebab, inilah tugas dan fungsi yang harus dilakukan oleh Hizb dalam rangka memenuhi seruan Allah SWT:
Hendaklah ada di antara kalian segolongan umat (jamaah/partai) yang menyerukan kebajikan (Islam) serta melakukan amar makruf nahi mungkar; merekalah orang-orang yang beruntung (QS Ali Imran [3]: 104).
Tugas yad’una ila al-khayr (menyerukan Islam) bisa bermakna mengajak orang non-Muslim agar memeluk Islam, atau mengajak orang Islam untuk menerapkan Islam dengan sempurna. Adapun tugas ya’muruna bi al-ma’ruf wa yanhauna ‘an al-munkar (melakukan amar makruf nahi mungkar) bisa dilakukan terhadap umat, dengan mendidik dan mengawal pemikiran dan perasaan umat (qawam al-ummah afkaraha wa hissaha), sehingga pemikiran dan perasaan tersebut tetap terjaga; bisa juga dilakukan terhadap penguasa, dengan mengoreksi kebijakannya (muhasabah al-hukkam), jika kebijakan-kebijakan tersebut dianggap menyalahi ketentuan hukum syariah.
Hizb tidak memposisikan diri sebagai oposisi karena dengan tegas Nabi melarangnya. ‘Ubadah bin Shamit menuturkan:
«بَايَعْنَا رَسُولَ اللهِ عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ فِي الْعُسْرِ وَالْيُسْرِ وَالْمَنْشَطِ وَالْمَكْرَهِ وَعَلَى أَثَرَةٍ عَلَيْنَا وَعَلَى أَنْ لاَ نُنَازِعَ الأَمْرَ أَهْلَهُ وَعَلَى أَنْ نَقُولَ بِالْحَقِّ أَيْنَمَا كُنَّا لاَ نَخَافُ فِي اللهِ لَوْمَةَ لاَئِمٍ»
Kami membaiat Rasulullah saw. untuk mendengar dan taat (kepada Baginda Nabi saw. selaku kepala negara), baik dalam kondisi susah, senang, lapang maupun terpaksa dan untuk mengalahkan kepentingan kami, juga agar kami tidak merebut urusan (kekuasaan) tersebut dari pemangkunya, serta kami hendaknya menyatakan kebenaran di manapun kami berada. Kami tidak takut terhadap cacian pencaci, semata-mata karena Allah SWT (HR Muslim).
Jadi, meski Hizbut Tahrir mendapatkan mandat kekuasaan (istilam al-hukm) dari umat, tidak berarti Hizb menjadi partai berkuasa. Sebab, penyerahan mandat (istilam al-hukm) tersebut merupakan fase transisi, dari umat kepada Hizb. Kemudian, Hizb akan menentukan siapa yang paling layak menjadi khalifah. Jika Amir Hizb yang dibaiat in’iqad untuk menduduki jabatan tersebut, tidak lain karena dialah orang yang paling layak. Setelah itu, Hizb akan tetap pada posisinya semula. Adapun Amir atau anggota Hizb yang telah dibaiat oleh umat sebagai khalifah kaum Muslim akan direlakan oleh Hizb untuk memimpin umat. Jabatan Amir yang beliau sandang pun dilepas, dan Hizb pun akan memilih kembali anggota terbaiknya untuk menjadi amirnya yang baru. 
Dengan demikian, relasi Hizbut Tahrir di satu sisi dengan Khilafah dan Khalifah adalah tetap tidak berubah. Sebagai kekuatan politik yang berada di tengah-tengah umat, Hizb tetap solid dan memegang komitmen penuh untuk setia kepada Negara Khilafah, meski tetap kritis terhadap setiap kebijakan yang dijalankan oleh negara. Di sisi lain, relasi Hizb dengan Khalifah yang sebelumnya menjadi Amir Hizb tentu berubah, karena posisi Amirnya saat itu tidak lagi menjadi Amir Hizb, tetapi sudah menjadi Khalifah. 
Dengan demikian, Khalifah pun bisa menjaga jarak yang sama antara Hizb dengan komponen umat yang lain. Tidak ada nepotisme, kolusi maupun balas budi. Sebab, masing-masing hanya berpikir menjalankan kewajibannya terhadap Islam dan kaum Muslim, semata-mata karena Allah SWT, bukan karena yang lain. [Ust Hafid Abdurrahman]
Catatan kaki:

[1] Al-‘Allamah Syaikh ‘Abdul Qadim Zallum, Nizham al-Hukm fi al-Islam, Dar al-Ummah, Beirut, cet VI, 2002 M/1422 H, hlm. 50-53.
[2] Ibid, hlm. 53.
Sumber HTI

Basyârah (berita gembira) Akan Tegaknya KHILAFAH ala Minhaajin Nubuwwah




تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلاَفَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اللهُ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ يَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا جَبْرِيَّةً فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلاَفَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ثُمَّ سَكَتَ

“Di tengah-tengah kalian terdapat zaman kenabian, atas izin Allah ia tetap ada. Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian. Ia ada dan atas izin Allah ia akan tetap ada. Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada kekuasaan (kerajaan) yang zalim; ia juga ada dan atas izin Allah ia akan tetap ada. Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada kekuasaan (kerajaan) diktator yang menyengsarakan; ia juga ada dan atas izin Alah akan tetap ada. Selanjutnya akan ada kembali Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian.” Beliau kemudian diam. (HR Ahmad dan al-Bazar).

Sanad Hadits

Imam Ahmad menerimanya dari Sulaiman bin Dawud ath-Thuyalisi dari Dawud bin Ibrahim al-Wasithi dari Habib bin Salim dari an-Nu‘man bin Basyir. Ia berkata:

Kami sedang duduk di masjid bersama Rasulullah saw. Basyir adalah orang yang hati-hati dalm berbicara. Lalu datang Abu Tsa‘labah al-Khusyani. Ia berkata, “Wahai Basyir bin Saad, apakah engkau hapal hadis Rasulullah saw. tentang para pemimpin?”

Hudzaifah berkata, “Aku hapal khutbah beliau.”

Lalu Abu Tsa‘labah duduk dan Hudzaifah berkata, “Rasululah saw. bersabda: (sesuai dengan matan hadis di atas).” 1

Al-Bazzar2 menerimanya dari al-Walid bin Amru bin Sikin dari Ya‘qub bin Ishaq al-Hadhrami dari Ibrahim bin Dawud dari Habib bin Salim dari an-Nu‘man bin Basyir. Ia bercerita bahwa ia sedang di masjid bersama bapaknya, Basyir bin Saad. Lalu datang Abu Tsa‘labah al-Khusyani. Kemudian terjadilah dialog seperti di atas.

Al-Haytsami berkomentar,3″Imam Ahmad meriwayatkannya dalam Tarjamah an-Nu‘mân, juga al-Bazzar secara persis, ath-Thabrani secara sebagiannya di dalam al-Awsath, dan para perawinya tsiqah. Ibn Rajab al-Hanbali juga menukil riwayat Ahmad ini.

Makna dan Faedah

Hadis ini memberitahukan lima periode perjalanan kaum Muslim sejak masa kenabian. Periode pertama adalah periode kenabian.

Periode kedua adalah periode Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian. Para ulama sepakat bahwa periode Khilafah Rasyidah adalah periode Khilafah yang berjalan di atas manhaj kenabian. Menurut sebagian ulama, periode ini adalah periode Khulafar Rasyidin sampai periode Khilafah al-Hasan bin Ali. Khilafah Umar bin Abdul Aziz oleh sebagian ulama juga dikategorikan Khilafah Rasyidah sehingga beliau juga dijuluki Khulafaur Rasyidin.

Periode ketiga adalah periode pemerintahan dan kekuasaan yang zalim. Lafal mulk bisa berarti kerajaan, bisa juga al-hukm wa as-sulthân (pemerintahan dan kekuasaan). Lafal mulk dalam hadis ini kurang tepat jika dimaknai kerajaan sebagai sebuah bentuk pemerintahan. Sebab, setelah Khulafaur Rasyidin, bentuk pemerintahan kaum Muslim tidak berubah menjadi kerajaan, tetapi tetap Khilafah. Kepala negara tetap seorang khalifah dan tidak pernah berubah menjadi raja. Ini adalah fakta yang telah disepakati para ulama. As-Suyuthi dalam Tarîkh al-Khulafâ’ berkata, “Aku hanya menyebutkan khalifah yang telah disepakati keabsahan imâmah-nya dan keabsahan akad baiatnya.”5

Secara faktual, Khilafah terus berlanjut sampai diruntuhkan oleh penjajah Barat tahun 1924 M. Namun, juga disepakati, selama rentang waktu tersebut terjadi penyimpangan dan keburukan penerapan Islam di sana-sini. Jadi, periode tersebut adalah periode pemerintahan dan kekuasaan yang di dalamnya terjadi kazaliman, yaitu peyimpangan dan keburukan penerapan sistem dalam beberapa hal.

Periode selanjutnya adalah periode pemerintahan dan kekuasaan jabbariyah (diktator). Dalam riwayat Abu Tsa‘labah al-Khusyani dari Muadz bin Jabal dan Abu Ubaidah, periode ini digambarkan sebagai periode pemerintahan dan kekuasaan yang sewenang-wenang, durhaka, diktator, dan melampaui batas.6Gambaran demikian adalah gambaran pemerintahan dan kekuasaan yang bukan Islam. Periode pasca runtuhnya Khilafah saat ini tampaknya sesuai dengan gambaran tersebut.

Periode terakhir adalah periode kembalinya Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian. Ini merupakan basyârah (berita gembira) akan tegaknya kembali Khilafah setelah keruntuhannya. Makna yang sama juga diriwayatkan dalam banyak riwayat. Jika riwayat ini digabung dengan riwayat lain yang semakna, yaitu riwayat akan masuknya Islam di setiap rumah, hadis al-waraq al-mu’allaq, hadis Khilafah turun di bumi al-Quds, hadis mengenai Dâr al-Islâm kaum Mukmin berpusat di Syam, hadis ‘adl wa al-jur, hadis hijrah setelah hijrah, hadis al-ghuraba’, hadis al-mahdi, dan hadis akan ditaklukkannya Roma, maka makna tersebut bahkan bisa sampai pada tingkat mutawatir.7

Basyârah ini selayaknya memacu semangat kita untuk terus berjuang demi tegaknya Khilafah, karena kita ingin mendapat kemuliaan, yakni turut menjadi aktor bagi terlaksananya janji Allah tersebut. Allâhummarzuqnâ dawlah Khilâfah Râsyidah.

Wallâh a‘lam bi ash-shawâb
 http://syabab1924.blogspot.com/2010/09/takhirj-hadits-riwayat-imam-ahmad.html